Sumatra Barat, Haluanberantas.com – Langkah-langkah mahasiswa Dewan Mahasiswa (DEMA) STAI ARIDHO Bagansiapiapi menyusuri ranah Minangkabau bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan ikhtiar intelektual yang dirancang untuk mempertemukan teori dengan realitas.
Selama tiga hari, 16–18 Januari 2026, studi tour ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang menyatukan wawasan keilmuan, nilai keislaman, serta kekayaan sosial-budaya Sumatra Barat.
Program tersebut dirancang sebagai medium dialektika terbuka, tempat mahasiswa menguji gagasan yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik kehidupan masyarakat. Falsafah hidup Minangkabau, adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah menjadi rujukan utama dalam memahami bagaimana nilai agama dan adat berpadu membentuk tatanan sosial yang kokoh dan relevan hingga kini.
Pemilihan Sumatra Barat sebagai lokasi studi mencerminkan orientasi akademik yang visioner. Daerah ini dikenal sebagai pusat tradisi keilmuan dan kebudayaan yang kuat, sekaligus menawarkan praktik sosial yang kaya akan nilai pendidikan.
Melalui observasi lapangan dan interaksi langsung dengan masyarakat setempat, mahasiswa diasah untuk berpikir kritis, analitis, dan reflektif terhadap dinamika sosial yang mereka temui.
Lebih dari sekadar agenda akademik, studi tour ini juga menjadi wahana pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa. Kebersamaan selama perjalanan, intensitas diskusi, serta tantangan di lapangan menumbuhkan sikap tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk insan akademis yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Ketua DEMA STAI ARIDHO, M. Randy Ramadhan, memandang pembelajaran sebagai proses yang harus berdenyut bersama realitas. Bagi dia, ruang kelas hanyalah titik awal. Indonesia sendiri adalah laboratorium sosial yang sesungguhnya, tempat ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan kebudayaan bertemu, berdialog, lalu saling menguatkan.
“Studi tour ini kami rancang untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa. Kami ingin mereka pulang bukan hanya membawa catatan akademik, tetapi juga kesadaran sosial, integritas moral, dan kesiapan mengambil peran strategis di tengah masyarakat,” ujarnya. kepada Haluanberantas.com, Selasa, (20/1/2026).
Melalui perjalanan intelektual ke Sumatra Barat, DEMA STAI ARIDHO menegaskan pesan mendasar tentang makna pendidikan. Ketika ilmu bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial, pendidikan tidak lagi berhenti pada pemahaman semata. “Ia menjelma menjadi nilai yang dihidupi, diamalkan, dan diperjuangkan, tegas Randy Ramadhan.**







